Robotic Telescope
Sekarang ini saya terlibat dengan projek Robotic Telescope (RT) yang akan diinstall di Melaka, Malaysia. Project Managernya adalah Pak Ridwan Hidayat Msc, yang asalnya dari Bandung, dan sudah tinggal di Malaysia (kuliah + kerja) belasan tahun lamanya.
Sejarah awal dari pembangunan projek RT ini dapat anda baca pada link ini. Dalam blog ini saya mereview projek RT yang telah di handover dan digunakan sepenuhnya, yaitu projek RT yang berada di Langkawi, Malaysia yang dimiliki dan dijalankan oleh ANGKASA.
Sistem robotik teleskop ini cukup simple instalasi dan cara penggunaannya. Tetapi RT ini adalah projek yang cukup mahal, karena harga 20RC Carbon Truss Ritchey-Chrétien (teleskop utama) saja telah mencecah ratusan juta, ditambah lagi dengan Takahashi FCL-90 Guidingscope, dan yang termahal tentunya Robotic Mounting (Paramount-ME Robotic Mount dibuat oleh s bisque) yang merupakan inti dari projek RT ini.
![]() |
|
| Figur 1. Gambar struktur dari 20RC Carbon Truss (RCOS) | |
![]() |
![]() |
| Figur 2. Takahashi Sky-90 (Takahashi) | Figur 3. Paramount ME Robotic Mount |
Sesuai dengan nama projeknya, tentunya sistem ini dikendalikan robot. Tetapi sebenarnya ia bukanlah robot dalam pengertian yang teramat canggih. Pengertian Robotic Telescope (RT) disini adalah suatu sistem yang dimana teleskopnya dapat beroperasi tanpa pantauan langsung. Hal-hal minimum yang diperlukan untuk menjalankan sistem robotik ini adalah:
- Ruang penutup otomatis (membuka/menutup) yang dapat berupa kubah (dome) atau atap datar (flat roof)
- Sebuah teleskop dengan robotic mounting nya
- Komputer yang tentunya harus terhubung Internet
- Sensor cuaca (untuk menghindari hujan, sehingga kubah dapat menutup secara otomatis)
- Software untuk mengendalikan teleskop secara remote
Secara ringkasnya, sistem RT ini dipasang dalam suatu ruangan yang beratapkan kubah (dome), didalam ruangan itu terdiri dari teleskop lengkap dengan robotic mountingya, 3 PC desktop, 1 server, video server, weather station, inside dome camera, guider scope camera, control box yang berisi peralatan elektronik yang mengatur kesemua sistem, dan diluar kubah terdapat all sky camera, outside dome camera, cloud sensor.
Kesemua peralatan itu dikontrol melalui mekanisme elektronik yang terhubung dengan Internet, sehingga bisa dikatakan semuanya serba otomatis. Seperti Kubah yang dapat membuka dan menutup, pergerakan mounting teleskop, penyalaan lampu, dll.
Untuk dapat menggunakan sistem RT ini, user diberikan 3 pilihan yaitu: on-site mode, on-line mode (ARPC), full-internet mode. Kalau memilih on-site mode maka user harus datang ke lokasi teleskop itu sendiri, sedangkan yang kedua mode terakhir ianya dapat kita lakukan asalkan ada jaringan internet, yang membedakan hanyalah pada on-line mode (ARPC) user menggunakan software ARPC (remote control pc) untuk mendapatkan akses ke server RT, sedangkan pada full-internet mode user hanya mengakses melalui internet dan login kepada sistem yang telah dibina, untuk sepenuhnya dapat menggunakan sistem RT tersebut.
Hasil pengamatan dan pemotretan menggunakan robotik teleskop ini sangat jernih dan detail. Berikut adalah contoh yang telah disimpan.
![]() |
| Figur 4. Nebula ….. (*apa gitu) |
Sebenarnya masih banyak yang dapat diceritakan mengenai RT ini. Baik dari segi mekanikal pemasangan kubah, ilmu astronomi, penggunaan IT infrastruktur, cara penggunaan, dll. Mungkin suatu saat nanti akan saya sambung kembali pembahasan projek ini. Sebagai penutup saya berikan cuplikan gambar teleskop yang telah sempurna dipasang pada robotic mount dan infrastuktur keseluruhan sistem tersebut.
![]() |
| Figur 5. Teleskop yang telah sempurna diinstall |
![]() |
| Figur 6. Infrastruktur RT di Langkawi |
Popularity: 36% [?]














Comments (9 comments)
fiuuhhh ,panjang amat ceritanya…
wank,,ntar buatin untuk di rumah ya..1 aja ga usah banyak2..ntar banyak yang dateng malah repot..
oo..ini ya kerjaan nya awank di negeri seberang..mending ngerjain buat indonesia wank,,planetarium udah mati tuh hehe..
wah hebat, moga sukses ya dengan proyeknya
ehh..alat ini sebenernya buat apa siy??buat poto2 bintang gitu?
koq jadi binun sayah,,he..
tapi salut sama mekanisme robotic-nya,keren.
# ayahsiva: sama-sama. tq
# perdi: iya, untun meneropong bintang, tapi g make mata, hasilnya ditampilin di komputer, bisa melalui internet atau on site mode
Ekonomi Malaysia nampaknya sedang sangat berkembang, sehingga mampu membiayai proyek2 mahal - walaupun pelaksananya justeru orang2 dari negeri jiran yang disana dianggap inferior.
Di bidang astronomi, Indonesia saat ini masih yang teratas dibanding negara2 asia tenggara lainnya. Tapi kalau pemerintah masih belum memberi perhatian yg cukup thd perkembangan sains disini, maka negara2 lain akan segera mendahului. Malaysia dg teleskop robotik ini adalah salah satunya. Yg segera menyusul adalah Thailand yg dengar2 sedang berencana membangun teleskop 2.5 meter di Chiang Mai.
Anyway, nice writing, dan salam kenal :).
dhani’s last blog post..Ahmed Zewail: Perjalanan Melalui Waktu
# dhani : Iya, semoga pemerintah kita memerhatikan hal-hal yang seperti ini, baik itu ilmu IT, astronomi, olahraga, budaya, semua pokoknya
[…] saya ingin menunjukkan progress dari projek yang pernah saya ceritakan sebelumnya, yaitu projek robotik teleskop. Kami menghampiri fasa akhir, yaitu sekarang fasa telescope installation and system testing […]
Waah hebat, saya harap kita bisa saling sharing ilmu pengetahuan. Program Studi Astronomi ITB juga sedang mengembangkan remote dan robotik teleskop. tetapi jalannya tidak secepat di malaysia, masih tersandung dana, maklum belum ada bantuan dari pemerintah maupun instansi terkait sehingga kita jalan dengan dana seadanya. jadi untuk kedepannya kayaknya kita bisa saling bertukar pikiran nih.
Untuk ilmu astronomynya sendiri, Indonesia masih bisa berbangga. tapi jika tidak berkembang ( terutama instrumennya ), tentu kita akan ditinggal tetangga-tetangga kita.
What do you think?